socialworkers.or.id
11 Sep 2010
Rumah Singgah bukan solusi masalah anak jalanan PDF Print E-mail

Tata SudrajatSetelah lama tak menjadi sorotan, anak jalanan kembali menjadi isu yang mengemuka menyusul terkuaknya korban-korban Babe.   Sedikitnya 11 anak menjadi korban kesadisan pria paruh baya ini. Keberadaan rumah singgah pun menjadi perbincangan setelah Menteri Sosial menjanjikan akan membangun lebih banyak lagi rumah singgah untuk mengatasi 230 anak jalanan di Indonesia. Benarkah rumah singgah merupakan jawaban atas keberadaan anak jalanan?

17 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1993, keberadaan anak jalanan, tidak “diakui” oleh pemerintah. Tata Sudrajat (41) yang kala itu baru lulus dari Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial, mencoba mendekati anak-anak di kawasan terminal Pulogadung. Bukannya sambutan yang diterima, Tata malah dicurigai sebagai seorang pedofil. Kala itu, isu sodomi sudah santer dikalangan anak-anak jalanan.

Perlu 3 bulan bagi Tata untuk meyakinkan anak-anak jalanan itu bahwa kehadirannya bukanlah ancaman. Agar mudah memantau, Tata menyewa sebuah rumah yang dimaksudkan sebagai tempat berkumpul bila anak-anak tidak turun ke jalan. Di rumah itu Tata mendengarkan cerita-cerita mereka, menggali informasi tentang diri anak-anak dan sesekali memberi “penyuluhan” tentang bahaya pedofil dan HIV/AIDS. Pernah, Tata membawa temannya yang bekerja di Bank, untuk bicara tentang uang dan tabungan. Anak-anak terlihat senang.

Tata menyebut rumah yang diperuntukkannya bagi anak-anak itu dengan Rumah Singgah. Istilah yang kemudian meluas setelah Depsos mereplikasi model rumah singgah itu ke beberapa propinsi. Ya, setelah desakan dari berbagai pihak, pemerintah kemudian mengakui adanya fenomena anak-anak jalanan.

Selain rumah singgah, program lain yang diluncurkan oleh Depsos adalah Mobil Sahabat Anak dan Boarding House. Rencananya, Mobil Sahabat Anak akan berkeliling di kantong-kantong anak jalanan, untuk memantau dan memberikan layanan.  Berikutnya anak-anak akan mengunjungi rumah singgah terdekat untuk mendapatkan layanan lebih lanjut. Bagi mereka yang memerlukan rumah untuk berlindung permanen, selanjutnya akan ditempatkan di Boarding House.

Kelak, entah kenapa hanya rumah singgah yang masih terdengar gaungnya. Mobil sahabat anak dan boarding house tidak lagi populer. Keterputusan rantai ini menimbulkan kritik terhadap rumah singgah. Rumah singgah dianggap tidak mampu mengurangi jumlah anak-anak jalanan. Di Jakarta saja, saat ini diperkirakan terdapat 100 ribu anak jalanan. Naik tajam dari sebelumnya 80 ribu pada tahun 2008.

MenanggTata Sudrajatapi kritik ini, Tata mengatakan bahwa rumah singgah bukanlah solusi masalah anak jalanan. “Ibarat mengepel lantai” demikian Tata membuat analogi. Menurut Tata, permasalahan anak jalanan tidak akan selesai hanya dengan membangun banyak rumah singgah. Karena anak jalanan hanyalah hasil dari sekian banyak persoalan sosial; kemiskinan, ketiadaan lapangan kerja, dan masalah-masalah lain menyusul urbanisasi, “Harus ditutup atap yang bocornya”.

Karenanya, Tata menilai janji-janji untuk menghilangkan anak jalanan hanya akan menjadi slogan-slogan kosong tanpa makna. Selama instrumen-instrumen yang memicu anak-anak untuk turun ke jalan tidak diperhatikan, maka selamanya kita akan melihat keberadaan anak-anak jalanan.
Tentang Rumah Singgah sendiri, Tata mengingatkan pentingnya pendampingan yang intensif terhadap anak-anak. “Dulu” katanya mengenang, “Tiap malam kami berkumpul dengan anak-anak”. Bahkan saking dekatnya kami bahkan tahu berapa penghasilan mereka satu hari.

Seiring waktu, pergumulan Tata dengan anak-anak jalanan memasuki fase baru. Tata tak lagi turun ke jalan, tapi sibuk berkutat dengan perencanaan program. “Orang LSM kantoran” begitu Tata menyebut dirinya sekarang.

Ya, sejak tahun 2005, Tata telah bergabung dengan dengan salah satu NGO internasional yang punya perhatian pada anak. “Jiwanya tetap untuk anak-anak, tetapi sekarang dengan cara yang berbeda”.